Sabtu, 20 Februari 2010

Tips Untuk Meningkatkan Jumlah Sperma

Jika Anda ingin meningkatkan peluang untuk memiliki anak ataupun hanya sekedar ingin ejakulasi dengan tingkat sperma yang tinggi, maka sistem reproduksi Anda harus sehat agar diperoleh jumlah sperma yang banyak.
http://iannova.files.wordpress.com/2009/02/sperma.jpg

Perlu diketahui, air mani dan sperma yang banyak akan menyebabkan orgasme yang lebih lama, termasuk meningkatkan nafsu seksual. Berikut ini ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk memperbaiki atau meningkatkan jumlah sperma:

Berhenti merokok
http://ahmad-prayitno.com/media/blogs/apblog/stopsmoking.gif
Selain menyebabkan bau nafas yang tidak sedap, kebiasaan merokok ternyata dapat mempengaruhi jumlah sperma. Sebuah penelitian menunjukan bahwa kaum perokok memiliki jumlah sperma yang lebih sedikit dibandingkan mereka yang tidak merokok.

Hindari memakai celana yang terlalu ketat
http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/patriarki-11.gif
Hal ini merupakan alasan mengapa testis letaknya tergantung di tubuh. Testis memerlukan suhu yang lebih sejuk dibandingkan bagian tubuh lainnya. Oleh karena itu, memakai celana dalam atau celana panjang yang terlalu ketat akan mengakibatkan suhu di sekitarnya menjadi panas dan mempengaruhi produksi sperma.

Pola makan yang tepat
http://myhobbyblogs.com/food/files/2008/11/tempe-masak-paprika.jpg
Pola makan diketahui dapat mempengaruhi produksi sperma. Cobalah untuk mengonsumsi makanan dengan kandungan lemak yang rendah, protein yang tinggi, sayuran, buah, dan berbagai jenis padi-padian yang baik bagi kesehatan.

Kurangi hubungan intim dan masturbasi
http://www.nehandaradio.com/zimbabwe/health/hand_body_lotion250.jpg
Pria seringkali mengeluh karena air mani atau sperma yang keluar ternyata sedikit dan encer. Perlu diketahui, semakin banyak ejakulasi, maka akan semakin berkurang kekentalan sperma tersebut. Jika Anda melakukan hubungan intim setiap hari atau sering masturbasi, maka hal itu akan berpengaruh pada jumlah sperma maupun kekentalan air mani.

Hindari konsumsi alkohol
http://asahannews.com/wp-content/uploads/2009/10/mabok.jpg
Alkohol diketahui dapat mempengaruhi fungsi hati yang akhirnya dapat menyebabkan peningkatan kadar estrogen. Kadar estrogen yang tinggi dalam tubuh akan mempengaruhi produksi sperma.

Olahraga otot
http://www1.pictures.zimbio.com/fp/Matthew+McConaughey+Jogging+Malibu+1f9qq2B0y9gl.jpg
Meskipun olahraga tidak dapat secara langsung meningkatkan produksi sperma dan air mani, namun olahraga otot dapat membantu Anda untuk lebih sehat dan bugar.

Konsumsi suplemen alami
http://images.detik.com/content/2009/09/15/766/MAKAN-DAGING-luar(assetcache).jpg
Suplemen alami diyakini dapat meningkatkan produksi sperma. Contohnya yaitu L-carnitine, yang ditemukan dalam daging merah dan susu, merupakan asam amino alami yang dapat meningkatkan produksi dan kecepatan sperma. Selain itu, asam folat yang dikombinasikan dengan seng dapat meningkatkan produksi sperma. Senyawa L-arginine yang terdapat dalam kacang-kacangan, telur, dan daging juga memiliki khasiat yang sama seperti vitamin E dan selenium untuk memperbaiki kecepatan maupun konsentrasi sperma.

Patriarki dalam media promosi: Sebuah pendekatan semiotis tentang tampilan iklan dan kemasan celana dalam pria

Oleh Gabriela Bertie Alia

PENDAHULUAN
Pakaian merupakan salah satu kebutuhan primer manusia sejak awal mula. Manusia purba mulai menggunakan pakaian sebagai pelindung kulit dan tubuh dari cuaca dan gangguan serangga. Seiring sistem kebudayaan yang mulai berkembang, kegunaan pakaian ditambah dengan fungsi sosial. Fungsi ini terlihat dari pakaian yang berfungsi sebagai penanda gender dan tingkat sosial dalam masyarakat. Dari pakaian yang terbuat dari kulit binatang hingga ditemukannya serat katun, pakaian dibuat dengan tangan. Setelah revolusi industri, pakaian mulai dibuat secara massal, berkat ditemukannya mesin pemintal dan mesin jahit.

Sejak industri pakaian mulai berkembang, produk pakaian jadi (ready to wear) sebagian besar dibuat untuk konsumen wanita. Fenomena ini disebabkan oleh tendensi peminat pakaian wanita jauh lebih banyak dari pada pakaian pria. Sebagian besar wanita menilai keberagaman pakaian sebagai kebutuhan, karena mereka tumbuh melihat figur ibu yang dituntut harus bersolek demi kedudukan dalam lingkaran sosial. (Lacan : 1997) Ditambah lagi perempuan mengganggap pakaian yang mereka kenakan merupakan penunjuk dari pribadi mereka (dan standar penilaian seorang pribadi). Menurut Jung, tingkah laku perempuan yang terlihat umumnya jauh lebih personal dari laki-laki. (Jung, 1996). Sehingga lelaki jarang membeli pakaian berdasarkan keinginan, melainkan kebutuhan, apalagi untuk pakaian dalam yang hanya terlihat oleh si pemakai. Kecenderungan ini sekarang telah bergeser.

Industri pakaian wanita berkembang dengan amat pesat, begitu pula dengan pakaian dalam wanita. Merek-merek eksklusif Eropa dan Amerika seperti La Senza, Marks & Spencer dan Victoria Secret mulai melebarkan sayap ke negara-negara Asia. Lain halnya dengan industri pakaian untuk lelaki. Hanya sebagian kecil produsen yang tertarik untuk memproduksi pakaian pria, lebih sedikit lagi perancang busana yang berminat menggarap pakaian dalam pria. Berikut ini akan dipaparkan sekelumit sejarah pakaian dalam yang digunakan oleh kaum Adam. Kemudian akan dibahas desain kemasan pakaian dalam lelaki dewasa untuk memenangkan minat konsumen.

Sejarah Pakaian Dalam Pria

Lelaki Mesir sudah menggunakan baju dalam berbahan linen sejak 2000 SM. Berbentuk sederhana, dan digunakan untuk pakaian sehari-hari. Untuk acara resmi, mereka menambahkan kain linen berlipit yang dililit berbentuk rok. Sementara kaum bangsawan menambahkan jubah linen berlipit dan perhiasan. Begitu pentingnya pakaian dalam, sehingga tersedia beberapa cadangan dalam makam para Pharaoh. Lelaki Yunani kuno tidak menggunakan pakaian dalam, mereka mengenakan chiton, selembar kain wol tanpa jahitan yang dijepit dengan bros dari tulang/emas/perunggu yang disebut fibulae. Baru di atasnya mereka mengenakan jubah yang disebut himation. Bentuk pakaian dalam kuno yang paling mendekati pakaian dalam modern adalah subligaculum yang digunakan lelaki Romawi. Kata subligaculum berarti celana dan digunakan di bawah toga atau tunik.

Kegunaan baju dalam sebagai pelindung baru terlihat pada abad pertengahan. Sekitar abad ke-13 di Eropa, kaum lelaki mulai menggunakan celana longgar (baggy drawers) linen yang disebut braies. Celana dalam mulai popular pada masa ini, terutama digunakan oleh para ksatria sebagai pelindung kulit agar tidak lecet terkena baju zirah. Braies menggunakan teknik serut-ikat (drawstring) yang diikat dengan tali linen. Kaum bangsawan kaya menggunakan chausses di atas braies, celana sepanjang lutut yang dijahit sesuai dengan bentuk kaki.

Chausses yang lebih ketat menyerupai stoking yang disebut hose, menjadi tren pada era Renaisans. Panjang celana ini biasanya tepat di bawah lutut dan diberi jahitan semacam ban. Bahan yang digunakan semakin beragam, beludru, sutra bahkan berhias bulu binatang untuk musim dingin. Pada abad ke-14 memanjang hingga tumit. Warna-warna hose yang digunakan semakin berani, bahkan pada abad ke-15 banyak digunakan mi parti, 2 warna yang kontras digunakan untuk masing-masing kaki. Terbukti saat itu pakaian dalam tidak hanya berguna sebagai pelindung dan penghangat kulit, tetapi juga memiliki fungsi estetis.

Pada era ini, braies juga didesain untuk kemudahan buang air kecil bagi pemakainya dengan menambahkan semacam bukaan berkancing pada bagian depan (sistim praktis yang masih digunakan hingga saat ini). “Bukaan” ini terkadang diberi sumpalan agar ukuran genitalia terlihat mengesankan. Tren memberi sumpalan mencapai puncaknya saat Raja Henry VIII dari Inggris turut mempraktikan. Penggunaan sumpalan mulai dilebih-lebihkan sehingga tidak tampak realistis lagi. Tren ini berakhir akhir abad ke-16. Sebagai gantinya “bukaan” ini dijadikan kantong. (Yarwood: 1977)

Pada Era Ratu Victoria, kaus dalam mulai digunakan. Secara keseluruhan, kaus dan celana dalam (drawers) dibuat dengan tangan dari bahan wol, katun atau sutra. Warna yang digunakan menjadi terbatas pada putih. Sedangkan di Amerika sebelum perang sipil, drawers terbuat dari wol flanel sepanjang lutut.

Revolusi industri memungkinkan pemintalan benang katun dengan mesin, sehingga pakaian dalam dapat diproduksi secara massal. Pada periode ini lelaki, wanita dan anak-anak dari berbagai kalangan dapat membeli pakaian dalam di toko. Sebagian besar menggunakan pakaian dalam (berbentuk terusan celana) yang disebut union suits yang memiliki bukaan berkancing di bagian belakang untuk memudahkan buang air. Sebutan stoking lelaki: “long john” didapat dari petinju Long John Sullivan yang terkenal pada tahun 1880an, beliau memakainya sebagai kostum tinju. Long john masih digunakan hingga kini dan mengalami evolusi material dari wol hingga lycra®.

Selepas abad ke-16, kolonialisme mulai marak di kalangan kerajaan Eropa. Selain rempah-rempah yang menjadi tujuan utama, mereka juga membawa varietas tumbuhan baru sebagai penemuan merambah dunia baru. Penemuan bahan karet di semenanjung Malaya amat penting dalam sejarah pakaian dalam. Bahan karet digunakan untuk berbagai macam produk, dari ketapel hingga ban hidup (berisi gas). Sifat mulur karet, membuat para inventor untuk mencoba menggunakan bahan baru ini sebagai pengencang baju dalam. Thomas Hancock (Inggris) mencampurnya dengan Sulfur dan memasukkannya dalam pintalan benang. Selain lebih mudah untuk ditenun, karet tersebut juga lebih tahan terhadap suhu panas dan dingin. Benang elastis ini berkembang terus sehingga ditemukan elastex, spandex (1959) dan lycra®.

Pada masa kolonialisme, lelaki Indonesia mulai menggunakan pakaian dalam yang amat sederhana pada masa perang dunia ke-2. Sebagian besar memakai katun kasar (blacu) yang diberi pemutih (blauw) dan direndam dalam larutan terigu lalu dijemur hingga kaku. Pada masa pendudukan Jepang bahan goni bekas karung digunakan dengan pencucian berkali-kali. Saat mencuci, goni dibanting-banting ke permukaan batu agar melembut.

Perkembangan celana dalam pria di Indonesia seiring tren zaman

Perekonomian dunia makin membaik pada era 80-an, para desainer seperti Calvin Klein, Tommy Hilfiger, JOCKEY mulai tertarik untuk menggarap pasar pakaian dalam pria. Kemampuan daya beli masyarakat makin meninggi, memberi inspirasi mereka untuk membuat pakaian dalam yang tidak hanya nyaman, tetapi juga bergaya. Daya tarik utama dari pakaian dalam yang mereka produksi adalah seks. Inti dari promosi mereka adalah celana dalam yang memukau dilihat oleh pasangan dan menambah daya tarik seksual. Selaras dengan pemikiran Marx, yang menilai kapitalisme komoditi tidak hanya semata obyek utilitas, tetapi bergeser sebagai obyek yang memiliki nilai mistis tertentu. (Piliang: 2003).

Potongan dibuat semakin minim dan membuat genitalia terlihat semakin besar. Bentuk bikini, thongs dan g-string dibuat tidak hanya untuk wanita. Preferensi bentuk selain tergantung pada selera, juga tergantung pada iklim. Bentuk drawers, boxer, long john populer di daerah dengan 4 musim, yang notabene mengalami musim dingin bersuhu rendah. Sementara brief, bikini, thongs lebih popular di daerah beriklim tropis, seperti negara-negara di Amerika Selatan.

Produsen celana dalam pria di Indonesia juga mengikuti tren di Amerika dan Eropa. Sampai awal 80-an, hanya ada 3 merek baju dalam pria yang tersedia di pasaran Indonesia : HING’S, GT Man dan Swan. Kemasan dibuat sesederhana mungkin karena celana dalam dibeli karena kegunaannya sebagai pelindung genitalia dari celana pantalon yang pada umumnya berbahan berat. Lelaki bertendensi membeli barang yang diperlukannya semata, merek bukanlah pertimbangan. Celana dalam hanya dinilai sebagai obyek utilitas semata. Kaus dalam memiliki kegunaan sekunder agar tubuh tidak langsung terlihat di bawah kemeja berbahan agak transparan.

Akhir 80-an JOCKEY dan Rider membuka pabrik di Indonesia dan mulai memasarkan produknya untuk pasar lokal. Munculnya merek-merek baru yang ditawarkan membuat pilihan tidak terbatas pada Swan atau HING’S semata. Para desainer dan produsen garmen mulai berlomba menawarkan produknya. Ada 2 manifestasi desain yang diterapkan para produsen untuk memberdayakan desainnya menurut Agus Sachari. Pertama: upaya untuk meningkatkan inovasi dan kedua, pengusangan produk dengan penawaran model/ varian baru. (Sachari : 2002)

Dengan demikian kemasan harus mengandung kedua unsur tersebut agar menarik pembeli. Peningkatan inovasi dapat ditonjolkan melalui pemakaian bahan yang semakin nyaman dan potongan yang makin beragam. Penggunaan bahan stretch-cotton dan penambahan label “100% cotton”, dinilai peningkatan inovasi yang dapat lebih menarik konsumen. Trik “pengusangan” produk lewat peluncuran varian “baru” (dalam hal ini kebaruan hanya dalam hal warna) biasanya sudah memiliki target kalangan tertentu. Sebagai contoh misalnya boxer dengan motif kamuflase (atau lebih populer di kalangan masyarakat Indonesia dengan motif “ABRI”) atau tokoh kartun tertentu yang ditujukan untuk kalangan remaja yang ingin menunjukkan boxer tersebut. Tren hip hop dan punk memaparkan penyanyi yang mengenakan celana di bawah garis pinggang, sehingga boxer tampak oleh orang lain. Fungsi sosial bergeser dari pakaian dalam yang tabu terlihat orang lain, menjadi pakaian dalam harus terlihat.

Semiotika dalam iklan dan kemasan celana dalam pria

Seperti yang telah dikemukakan di atas, ketiga produsen awal pakaian dalam pria di Indonesia adalah Swan, GT Man dan HING’S. Ketiga merek ini hanya menggunakan plastik bening dengan teknik sablon untuk mencetak merek mereka pada bagian bawah depan kemasan. Penggunaan plastik bening dimaksudkan agar produk terlihat jelas oleh calon konsumen. Celana dalam dilipat di atas sebentuk karton sehingga terlihat rapi dan kotak. Bentuk kemasan ini bersifat tanpa basa-basi (straight-forward) menunjukkan fungsi celana dalam semata. Gaya ini tidak berubah sampai kompetitor-kompetitor lain mulai memproduksi dan melempar produknya ke pasar. Masih seperti HING’S dan Swan, kemasan produk JOCKEY juga menggunakan plastik bening dan dilipat meliputi karton. Mulai tahun 90-an JOCKEY menjual celana dalam berbentuk paket yang berisi 3 pasang yang digulung. Semula kotak paket tersebut hanya menggunakan mika, sehingga isi dapat langsung terlihat. Kemudian seiring dengan muncul kompetitor lain, mulai ditambahkan foto pada kemasan berbahan art carton.

Sebelum era kaum wanita Indonesia berkarir di luar rumah, merekalah yang wajib membeli pakaian dalam bagi suami dan anak mereka. Jarang sekali lelaki dewasa membeli pakaian dalamnya di pasar atau toko kelontong. Hal ini membuat para produsen tidak mementingkan persepsi kaum lelaki akan produknya. Sehingga iklan dan penggarapan desain kemasan dianggap tidak perlu. Apalagi penggarapan desain kemasan untuk dilihat kaum pria sebagai pemakai.

Lain halnya dengan masyarakat perkotaan dewasa ini. Mayoritas lelaki dewasa mulai membeli pakaian dalamnya sendiri. Sehingga persepsi mereka sebagai pembeli dan pemakai berarti amat besar. Masyarakat urban, baik lelaki maupun wanita, membeli suatu produk dengan berbagai pertimbangan. Faktor iklan dan kemasan adalah pertimbangan yang besar. Dalam hal ini kemasan tidak hanya berfungsi sebagai pembungkus, tetapi juga sebagai iklan dari produk tersebut.

Menurut Yasraf Amir Piliang, unsur semiotika yang selalu tampak dalam iklan memiliki 3 unsur yaitu : obyek, konteks dan teks.

Obyek dalam hal ini berarti produk yang diiklankan. Dalam hal iklan dan kemasan celana dalam pria, obyek selalu mengambil entitas berupa visual. Obyek juga memiliki fungi sebagai elemen penanda yang mewakili produk. Dalam setiap iklan, celana dalam pria sebagai sang obyek selalu ditampilkan dengan jelas. Jika perlu secara mendetil sehingga bahan yang empuk dan jahitan yang rapi dapat terlihat. Penampakan produk wajib hukumnya, karena kaum lelaki harus melihat secara jelas produk yang akan dibeli. Jarang iklan produk untuk lelaki yang hanya menampilkan citra atau gaya hidup belaka. Masih terlihat gaya tanpa basi-basi dari kemasan celana dalam pria sejak dekade 70-an. Dalam hal ini seluruh kemasan, seluruh merek pakaian dalam memampang produk.

Unsur yang kedua adalah konteks. Dalam iklan celana dalam untuk pria, konteks mengambil bentuk berupa penanda pemberi makna pada obyek.

Hasrat narsistik aktif, di mana seseorang berhasrat untuk menjadi orang lain. Dalam hal ini calon pembeli mengidentifikasikan dirinya dengan model yang terlihat di iklan dan kemasan. Selanjutnya Lacan mengemukakan ego yang mengidentifikasikan dirinya secara imajiner dengan orang lain.

Pengidentifikasian diri lewat orang lain membuat pemilihan badan model yang maskulin dan sehat bin sempurna. Badan model yang dipilih tidak memiliki lemak. Keenam otot perut benar-benar terlihat sepenuhnya, menunjukkan model yang sehat dan rajin berolahraga. Kesempurnaan fisik yang lain menurut masyarakat era ini adalah unsur “muda” yang terlihat dari kulit yang masih kencang. Bagian genitalia yang disumpal membuat ukurannya terlihat besar (seperti tren yang dipopulerkan Raja Henry VIII dari Inggris). Hal ini juga disebabkan kebiasaan pebalet pria yang menyumpal legging agar bentuk genitalia tidak jelas terlihat agar tidak saru.

Kesempurnaan tubuh juga dipengaruhi oleh warna kulit. Bagi masyarakat yang terpesona oleh kulit yang terbakar matahari, maka dipilih model yang memiliki warna kulit kecoklatan (tanned skin). Sedangkan bagi masyarakat Indonesia yang selama dekade terakhir ini terobsesi dengan kulit yang putih, dipilihlah model kaukasia berkulit putih.

Unsur ketiga adalah teks yang memperkuat makna (anchoring). Berbentuk tulisan. Untuk iklan dan kemasan celana dalam, makna yang perlu diperkuat adalah penyampai pesan tersebut, yaitu merek produsen. Merk memiliki fungsi sebagai penanda strata sosial. Sehingga harus dipasang di kemasan luar dan di produk. Beberapa merek bahkan memasang namanya berulang-ulang pada elastik celana. Menampilkan elastik yang memiliki merek “bergengsi” menjadi tren tersendiri di kalangan lelaki muda bergaya hip-hop.

Berikut ini contoh kemasan celana dalam pria yang memiliki ketiga unsur tersebut:

(gambar 1. Kemasan celana dalam bermerek GT Men)

Dalam gambar di atas, terlihat obyek berupa celana dalam terlihat dengan jelas. Konteks ditunjukkan dengan badan model yang atletis. Nuansa hitam putih yang digunakan bermaksud memberi kesan eksklusif dan menambah kesan maskulin. Sedangkan teks tampak lewat merek. Peningkatan inovasi juga tampil dengan logo “US Cotton”.

Kemasan dan iklan pakaian dalam pria juga memiliki kode sosial dan kode komoditi. Menurut Eco (1976), bahasa tubuh dan orientasi fisik berperan penting dalam membentuk persepsi pemirsa (kode sosial). Sementara fashion sendiri merupakan kode komoditi. Kode-kode ini juga dapat terlihat dalam contoh gambar di atas.

Mengapa model yang digunakan tidak bermuka?

Hal yang menarik dari iklan dan kemasan baju dalam pria adalah pemotongan foto dari model yang menghilangkan sebagian/keseluruhan muka mereka. Penulis meninjau rak beberapa toserba dan pasar yang menjual pakaian dalam pria. Sebagai contoh toserba Matahari memajang 12 merek, hanya 3 yang menunjukkan muka model. Hal ini berlaku bagi merek produksi Matahari group sendiri (Cole) dan merek-merek lain. Berikut ini 2 contoh kemasan celana dalam pria dari merek yang berbeda.

(gambar 2. Contoh kemasan merek lokal dari Matahari grup)

(gambar 3. Contoh kemasan merek luar yang sudah diproduksi di Indonesia)

Kecenderungan ini tidak hanya terjadi di Indonesia saja, tetapi juga berlaku untuk situs belanja pakaian dalam pria internasional. Berikut ini 1 contoh kemasan pakaian dalam dari situs toserba waralaba Debenhams dari Inggris.

(gambar 4. Contoh kemasan pakaian dalam yang dijual di www.debenhams.co.uk)

Untuk situs, seperti barenecessties.com (Amerika Serikat) dan topdrawers.co.uk (Inggris). Berbagai merek, harga, model ditawarkan oleh kedua situs ini. Pembeli dapat langsung memesan dan produk yang dipilih akan dikirim setelah pembayaran lewat kartu kredit diterima. Dalam kedua situs ini, penampilan wajah model juga dipotong. Bahkan untuk kaus dalam pria, muka model mengalami pemangkasan juga. Berikut contoh dari kedua situs tersebut.

(gambar 5. Contoh dari www.bareneccesities.com)

(gambar 6. Contoh dari www.topdrawers.co.uk)

(gambar 7. Contoh dari www.topdrawers.co.uk )

Untuk situs yang lebih eksklusif, model bermuka hanya digunakan dalam header. Sebagai contoh di sini situs dari Armani Exchange, lini sekunder dari rumah mode Armani.

(gambar 8. Contoh halaman dari situs www.armaniexchange.com)

Ada tiga kemungkinan alasan yang akan dicoba penulis untuk menjelaskan isu ini.

Teori dari Jacques Lacan bahwa anak laki-laki yang dibesarkan dalam tatanan hidup patriarkal akan berusaha menjadi Phallus. Dalam pengertian Lacan, Phallus tidak berarti penis, melainkan “pusat” yang mengatur seluruh struktur. Disebabkan oleh tatanan hidup patriarkal, maka manusia yang memiliki penis dianggap sebagai pemilik “pusat” tersebut.
Keberadaan wajah yang lain (di atas torso model) membuat pembeli tidak menjadi pusat lagi. Keberadaan “saingan” berupa model yang memiliki muka harus dihilangkan.

Menurut penulis, wajah adalah hal utama bagi pengidentifikasian sebuah ego. Penghapusan bagian kepala membuat sebuah “ego” menjadi lenyap dan hanya menjadi obyek semata. Begitu pentingnya kepala, sehingga patung-patung raksasa di Pulau Paskah yang memiliki anatomi kepala sepanjang badan. Contoh lain adalah patung-patung di Papua yang mengetengahkan perbandingan anatomi yang serupa. Pemenggalan kepala dalam mitos cara paling manjur membunuh drakula adalah contoh yang lain. (Eksekusi untuk kejahatan berat lewat tradisi memenggal kepala dengan guillotine di Perancis?)

Pentingnya anggota tubuh yang ini membuat eliminasinya penting juga. Pengambilan/pemotongan kepala merampok personifikasi dari iklan dan kemasan celana dalam pria tersebut. Sehingga jika keberadaan wajah sang model tidak dapat membentuk suatu “persaingan”. Kemudian calon pembeli dapat menjadi alpha-male (lelaki utama dalam kelompoknya) dan menjadi penentu kembali.

Alasan lain yang menjadikan “perampokan personifikasi” ini adalah homofobia. Preferensi seksual ini bernilai amat negatif dalam pandangan masyarakat Indonesia pada umumnya. Beberapa wawancara informal dengan lelaki Indonesia urban dewasa merasa risih dan jijik jika melihat model/foto lelaki berpakaian minim. Mereka juga menganggap hal tersebut hanya menarik bagi kaum homoseksual, dan merasa takut disangka homo jika menyukainya. Ketakutan ini berlaku juga saat memilih kemasan/ produk pakaian dalam.

Kebiasaan yang berbeda berlaku untuk iklan cetak di Eropa dan Amerika. Unsur selebritas dapat dijual sebagai nilai jual yang unik. Terutama selebriti yang memiliki prestasi dalam olahraga atau musik. David Beckham, mantan kapten sepak bola Inggris dikontrak jutaan dollar Amerika agar menjadi model utama untuk baju dalam Armani. Mark Walberg yang sempat terkenal sebagai pemusik rap pada paruh awal 90-an dipilih oleh perancang busana Calvin Klein untuk menjadi model utama. Walberg, terkenal gemar memelorotkan celana saat pentas. Aksi ini amat digilai para penonton Walberg karena boxer dan otot-otot perutnya terpampang jelas. Menurut Klein, “keunikan aksi” Walberg ini akan mendorong penjualan produk baju dalam prianya. Pendapat Klein terbukti benar, iklan cetak berseri yang menggunakan Walberg mendongkrak penjualan pakaian dalam Klein. Hingga Klein memutuskan memasangkan Walberg dengan Kate Moss model dari Inggris untuk mengentalkan unsur seksi.

Kedua contoh ini dipilih karena mereka memiliki tubuh yang sehat dan otot yang terbentuk bagaikan patung David oleh Michaelangelo. Alasan kedua adalah muka tampan mereka. Walberg memiliki muka tipikal pria amerika yang gagah, sementara Beckham tidak kalah tampan menurut selera warga belahan bumi Utara. (Hal ini juga yang menyebabkan rumah mode Armani tidak memilih Ronaldinho yang notabene lebih popular sebagai pemain sepak bola ketimbang Beckham) Sebab yang lain karena kedua selebritis ini sudah terkenal sebagai lelaki heteroseksual. Mereka berdua dapat menampilkan kesan amat maskulin, meskipun memperhatikan penampilan. Walberg terkenal sebagai playboy yang berangasan dan tidak sungkan berkelahi. Sementara Beckham memiliki istri dan anak-anak, dengan kata lain sebagai seorang ayah teladan. Penggunaan selebritis sebagai model tidak umum di Indonesia. Hal ini disebabkan karena homofobia (selebriti lelaki Indonesia merasa takut nama baiknya akan tercemar karena disangka homo) dan memajang lelaki berpakaian minim di depan umum masih dianggap tabu.

(gambar 9. iklan cetak brief Calvin Klein)

webliografi
http://www.armaniexchange.com terakhir diakses 27 November 2007, pukul 12.54
http://www.debenhams.co.uk terakhir diakses 16 November 2007, pukul 15.52
http://www.bareneccesities.com terakhir diakses 16 November 2007, pukul 15.54
http://www.topdrawers.co.uk terakhir diakses 16 November 2007, pukul 15.55
http://www.wyzman.com terakhir diakses 13 November 2007, pukul 14.24

Daftar Pustaka

Bracher, Mark, Jacques Lacan, Diskursus, dan Perubahan Sosial: Pengantar Kritik-budaya Psikoanalitis, (1997), Penerbit Jalasutra, Yogyakarta.
Chandler, Daniel, Semiotics: The Basics, (2002), Routledge, New York.
Piliang, Yasraf Amir, HIPERSEMIOTIKA: Tafsir Cultural Studies Atas Matinya Makna, (2003), Penerbit Jalasutra, Yogyakarta.
Sachari, Agus, ESTETIKA : Makna, Simbol dan Daya, (2002), Penerbit ITB, Bandung.
Yarwood, Doreen, The Encyclopaedia of World Costume, (1978), The Anchor Press, London.

•••

Brief, Boxer, G-String(merk celana dalam), Mana Yang Paling Sexy?


Berpenampilan seksi tak hanya milik kaum hawa. Para adam pun tentunya ingin unjuk gigi lewat penampilannya. Memang, badan kekar berotot serasa mendukung seksinya penampilan seorang pria. Namun dibalik keperkasaan tubuhnya, terselip satu pertanyaan menggelitik, apakah busana dalam yang dikenakannya seseksi penampilannya?

Yup, selama ini banyak yang beranggapan model celana dalam pria hanya itu-itu saja. Warna putih dengan model klasik. Ban pinggang setinggi perut yang menutup penuh hingga ke pangkal paha. Bila menengok ke belakang, model celana dalam pria memang tidak terlalu banyak. Pun warna-warna yang menyertainya. Hanya seputar putih, abu-abu, biru tua atau hitam. Monoton!

Ssstt… tahu nggak sih, kaum hawa justru senang melihat pria pasangannya mengenakan celana dalam yang seksi, memperlihatkan lekuk liuk tubuhnya yang padat. Kini, bentuk dan model celana dalam pria pun makin bervariasi. Demikian pula dengan warna-warnanya. Ada brief, boxer, boxer-brief, g-string, juga thong. Kaum adam tinggal memilih model yang pas guna membalut area pribadinya.

Brief merupakan salah satu model celana dalam yang paling banyak dipilih. Karena dinilai bisa menahan area genital pria dalam posisi yang pas. Bentuk Y di bagian depan brief pun memudahkan pria ketika buang air kecil. Tak perlu repot memelorotkan celana dalam, cukup mengeluarkan penis dari lubang Y.


Dalam perjalanannya, brief pun dimodifikasi menjadi sangat ketat, sehingga menempel lekat di panggul dan area genital pria. Bahkan saking ketatnya sampai dituding sebagai penyebab ketidaksuburan pria. Namun Journal of Urology (1998) membantahnya setelah melakukan penelitian pada sejumlah responden pria.

“Biasanya saya memakai brief yang tidak terlalu ketat karena nyaman dipakai untuk beraktivitas,” terang Herry. Pria yang bekerja sebagai PNS ini mengaku jarang berganti-ganti model celana dalam dan cenderung memilih warna yang tidak terlalu nge-jreng.

Lain halnya dengan Rizal. Mahasiswa kedokteran salah satu perguruan tinggi swasta di Surabaya ini mengaku memiliki celana dalam warna nge-jreng seperti oranye dan ungu terang! “Modelnya sih brief. Tapi biasanya nyari warna atau motif yang belum aku punya,” jelasnya, bangga.

Lain brief, lain pula boxer. Mengadaptasi dari celana yang dipakai petinju profesional, boxer muncul sejak tahun 1930an. Modelnya yang menyerupai celana pendek longgar cepat mendapat tempat. Beberapa tahun belakangan boxer kembali menjadi tren. Tampil dalam berbagai warna dan motif, boxer dipadukan dengan celana hipster.

Meski tampilan celana luarnya melorot, namun karet boxer yang mengintip keluar menjadikannya terlihat seksi. Saking booming-nya, boxer banyak dijual di distro-distro dan diburu kaum muda.

Rizal yang sering berburu barang di distro menuturkan, dirinya juga memiliki boxer, yang dibelinya di salah satu distro di Surabaya. Namun ia tidak memfungsikan boxer tersebut sebagai celana dalam. “Justru aku pakai untuk tidur. Lha wong modelnya justru enak dipakai tidur kok,” cetusnya sembari terkekeh.




Pilihanmu, Gayamu
Brief dan boxer yang digemari kaum adam, ternyata mencetuskan ide baru pada para penggiat mode. Mereka pun membuat boxer-brief. Model ini merupakan perluasan dari brief. Di mana mengadopsi model panjang boxer dan ketatnya model brief. Meski di pasaran dikenal sebagai produk baru, namun nyatanya tahun 1910an ada pula model celana dalam pria yang serupa dengan boxer-brief.

Bagaimana halnya dengan g-string? G-string dan thong selama ini memang lebih banyak dikenakan kaum hawa. Maklum, modelnya yang hanya menutupi bagian depan, membuat pria kurang percaya diri mengenakannya. Padahal, g-string pun pantas dikenakan pria. Bahkan tak jarang perempuan cepat tergoda melihat penampilan seksi pria yang memakai g-string.


Di abad kuno, pria justru mengenakan thong karena mudah dan nyaman. Populer di Amerika Selatan terutama di Brasil sejak tahun 1980an, dan dipakai di pantai sebagai celana renang, baik pria maupun para hawa. G-string dan thong hampir sama tapi tak serupa. G-string hanya memiliki kantong untuk area pribadi dan tidak menutupi pantat pria. Sementara thong memiliki tambahan berupa tali yang melintang di bawah pantat hingga pinggang, yang berfungsi menahan kantong penutup area genital.

Apapun pilihan modelnya, kaum adam saat ini sadar bahwa busana dalamnya pun menjadi bagian penting dalam keseharian mereka. Selain faktor kenyamanan, keindahan dan keseksian saat mengenakan celana dalam pun patut diperhatikan.

Justin Timberlake Ingin Main Film Homo

Gambar
Justin Timberlake (ist)
Los Angeles - Justin Timberlake memang bukan homo. Namun kekasih Jessica Biel itu sempat ingin ikut main dalam film homo. Hal itu diungkapkan oleh mantan personel 'N Sync, Lance Bass. detikhot kutip dari Female First, Jumat (19/10/2007), Lance mengakui orientasi seksualnya sebagai homoseksual tahun 2006 lalu. Lance pun sempat mengira Justin adalah homo ketika ia tahu ambisi terpendamnya. "Kami kira Justin gay karena dia bilang ingin ikut main film gay," ungkap Lance. Sayang Lance tak menjelaskan secara detil, film apa yang dimaksud. Bukan hanya Justin yang sempat dikira homo. Lance juga mengira Chris Fitzpatrick, personel 'N Sync lainnya tertarik pada pria. "Karena dia sering sekali hangout dengan koreografer," jelas Lance. Untung, Justin tidak seperti Lance. Jika tidak, pasti banyak perempuan patah hati. (dit/dit)

Hotel Bintang Lima Khusus Gay Hadir di Argentina

Ari Saputra - detikNews
Buenos Aires - Bila ingin bulan madu atau sekadar jalan-jalan, datanglah ke Buenos Aires, Argentina. Kenapa harus ke sana? Soalnya ibukota negeri gila bola itu baru saja membuka hotel khusus untuk pasangan yang sedang hot-hotnya. Bukan sembarang pasangan, tetapi pasangan sesama jenis. Brr..... "Di sini, tidak seorang pun dapat membocorkan," kata David Molina, pengunjung Barcelona's Axel Hotel, seperti dikutip dari AFP, Jumat (2/11/2007). Axel Hotel baru saja membuka perwakilan di Buenos Aires yang membuka layanan hotel homo itu. Sebagai pengunjung, Molino sangat menikmati kebebasan dan privasi yang diberikan. Siapa saja bebas berciuman atau sekadar mengobrol hangat di kafe hotel itu. "Saya merasa sangat nyaman. Saya membawa teman saya dan bebas bermesraan di mana saja," tandas Molina. Dengan penduduk 12 juta kepala, Buenos Aires sudah dikenal di kalangan gay. Jumlah bar, kafe dan restoran yang terbuka untuk kaum sejenis itu bertebaran di mana-mana. Sekarang, pasangan sesama jenis lebih bergembira dengan tambahan hotel bintang lima bagi para gay. Alasannya, tahun 2002 ibukota Argentina itu telah memberi toleransi yang luas bagi praktik homoseksualitas. Sayangnya, tidak dibocorkan berapa tarif per malamnya. (Ari/gah)

India Legalkan Gay

img
(dok ABC.net)
New Delhi, Pengadilan India melegalkan perilaku seks dalam satu gender atau homoseksual. Keputusan tersebut mengubah aturan selama 148 tahun di negara Gandhi itu yang sebelumnya menganggap perilaku itu tidak wajar.

Keputusan pengadilan India pada 1 Juli 2009 itu langsung disambut suka cita oleh komunitas gay negara Hindustan tersebut seperti di wilayah Bangalore. Namun keputusan tersebut ditentang oleh sebagian besar masyarakat India. Hampir semua media besar di India pun menunjukkan protes terhadap pelegalan status gay tersebut. "Segala aktivitas homoseksual tanpa suatu izin adalah tetap suatu tindak kriminal," ujar Indira Jaisingh, seorang konsultan LSM, Naz Foundation yang menentang peraturan baru tersebut, seperti dilansir CNN, Rabu (8/7/2009).

Munculnya peraturan yang melegalkan pasangan homoseksual tersebut berarti mematahkan peraturan pengadilan India sektor 377 yang menyetujui dan menyepakati bahwa perilaku homoseksual antar orang dewasa sebagai tindakan kriminal.

Putusan hakim tersebut akan mempengaruhi pelaksanaan hukum di seluruh India karena berhubungan dengan hukum yang dibuat oleh parlemen federal.

Beberapa surat kabar di India terus memberitakan pemberitaan yang besar atas putusan pengadilan India itu. Media setempat membuat headline yang menunjukkan nada pro dan kontra terhadap pengadilan tinggi India.

Inti dari tulisan di surat kabar tersebut menyatakan bahwa aturan yang dibuat pemerintah tidak akan mengakhiri kontroversi gay yang terjadi di negeri Taj Mahal tersebut.

Sebelumnya selama 148 tahun pasangan homoseksual dapat dihukum sepuluh tahun dalam penjara jika ketahuan. Masyarakat India menganggap bahwa hubungan sejenis adalah haram.

Sebaliknya grup pembela hak asasi berpendapat bahwa peraturan yang dikeluarkan tidak bertentangan dengan hak asasi manusia.

Seorang pengamat hukum India, Gautam Bhan pun mengatakan bahwa aturan tersebut adalah kemenangan untuk mewujudkan India yang demokratis.

"Keputusan tersebut harus dilihat dari kacamata kita semua, baik gay atau bukan. Apapun yang kita pikirkan tentang homoseksual, harus dihargai sebagai satu kemenangan untuk India yang sekuler, demokratis, berkonstitusi dan bebas," ujar Ghautam.

"Kita semua harus bangga," ucapnya.

Hindustan Times menulis, 'butuh waktu 150 tahun bagi India dan 42 tahun bagi Inggris untuk melegalkan homoseksual dan mengetahui bahwa kita tidak punya masalah dengan hubungan satu jenis'.

Sedangkan The Times of India menulis, 'Peraturan yang diklaim sebagai langkah raksasa menuju era globalisasi tersebut, membuat surat kabar India tersebut mengatakan bahwa India sudah menjadi negara ke-127 yang melepaskan rasa bersalahnya karena homoseksual'.

Kontes Gay Pertama Di Tiongkok

[nc_gay_china_100115_mn.jpg]

Beijing Delapan pemuda ganteng mengikuti kontes Mr Gay pertama di Tiongkok. Pemenangnya, nanti boleh mewakili Tiongkok di ajang internasional, yang akan berlangsung di Norwegia.

Namun, sang pemenang juga mendapat tugas berat lain, bertindak sebagai duta besar aktif kaum homo dan lesbian, di negeri mereka sendiri.

Tampak bahagia, potret mereka terpampang di halaman muka penerbitan koran pemerintah Tiongkok berbahasa Inggris, China Daily: dua pria Tiongkok. Mereka mengaku pasangan homo resmi pertama di Tiongkok.

Memang, mereka tidak punya buku nikah, karena undang-undang tidak mengenal ikatan pernikahan dengan jenis kelamin sama. Namun, hal itu tidak merintangi hasrat Zeng Anquan dan Pan Wenjie, untuk satu sama lain berjanji setia di muka umum.

Selain tanpa buku nikah, juga tidak ada orangtua dan relasi hetero mereka. Karena malu, mereka tidak ada yang hadir. Bagi kebanyakan warga Cina, homo seksualitas masih tabu. Padahal, sekitar 30 juta warga homo dan lesbian Tiongkok kini tidak mau lagi menyembunyikan diri.

Hingga tahun 1997, homo seksualitas dianggap sebagai pelanggaran. Selanjutnya, sejak 2001 termasuk gangguan psikiatri. Keterbukaan mengenai homo seksualitas sekarang ini, merupakan hal baru bagi tiongkok.

Sejak terbebas dari cap 'kriminal', dengan berhati-hati 'masyarakat pelangi' mulai berani membuka diri. Ini bisa berhasil, karena pada umumnya, moral tradisional puritan sedikit demi sedikit mulai lenyap. Saat ini, pasangan tanpa menikah, berciuman di muka umum dan penerangan seksual, di kota-kota besar tampaknya sudah bisa diterima.

Akhirnya, pada tahun 2009 kaum Gay Tiongkok benar-benar membuka diri. Atlet-atlet negeri itu mengikuti Pesta Olahraga Kaum Homoseksual di Kopenhagen. Shanghai menyelenggarakan Parade Gay pertama. Dan Yunan, dengan bantuan pemerintah, membuka bar homo. Dan Jum'at ini, Beijing menyelenggarakan pemilihan Mr Gay pertama.

Kontes ini menarik perhatian media, kata Ben Zhang, organisator Gayographic: "Tapi, 99,9 persen wartawan yang hadir, adalah wartawan asing. Media tiongkok tidak memberitakan peristiwa ini."

Ia tidak menjelaskan apakah ia mengundang mereka. Zhang tidak mau terlalu memaksa. "Kami baru akan merasa lega, jika kontes tersebut telah berlangsung. Kita tidak pernah yakin. Bisa saja, kegiatan seperti itu, pada saat-saat terakhir, dengan berbagai alasan, dilarang pemerintah."

Delapan kandidat akan bertarung di sebuah diskotek, menjadi wakil negeri mereka pada kontes tingkat dunia di Norwegia. Butir penilaian: kepribadian, daya tarik, dan tentu saja harus tampil mempesona dengan celana renang.

Namun, yang paling penting sebenarnya Mr Gay Tiongkokharus tampak ceria, aktif dan sehat, sebagai dutabesar di negeri sendiri. Karena, ia harus berusaha menghilangkan sekian banyak prasangka buruk.

Hal itu juga berlaku bagi kalangan homo sendiri, jelas Li Lian, seorang pemotong rambut berusia 30 tahun. Kini pun ia masih berangan-angan, suatu saat, akan bangun tidur, dan berubah menjadi seorang hetero.

"Polisi sering melancarkan razia di taman-taman, menangkap beberapa orang pria. Saya tertarik pada pria-pria tersebut. Jadi, saya juga takut ditangkap."

Sebelumnya, ia pernah menikah, dan lalu bercerai. "Saya menikah selama tiga tahun. dan kemudian bercerai, masih dalam keadaan sebagai perjaka." Lalu ia memberi tahu orangtuanya, bahwa ia hanya tertarik pada pria. Sejak itu, pertanyaan orangtua padanya selalu sama: "Sudah sembuh?" Seolah-olah homo seksualitas itu semacam penyakit pilek.

Li, adalah nama samaran, dan ia tidak mau dipotret. Ternyata, kebiasaan untuk menutup diri, masih sangat dalam.

Walaupun kaum homo Tiongkok masih harus menempuh perjalanan panjang, posisi mereka tidak seburuk nasib kaum homo di Afrika. Di puluhan negeri Afrika, hubungan seksual antara pasangan homo atau lesbian, mendapat ancaman hukuman penjara bertahun-tahun.

Di Sudan, kaum homo yang ditangkap, terlebih dulu mendapat hukuman cambuk, lalu baru dijebloskan ke tahanan.

Berbeda dengan situasi di Afrika, tradisi agama di Tiongkok tidak mengenal tabu dalam soal homo seksualitas. Homo seksualitas hanya bentrok dengan salahsatu kewajiban tradisional Cina paling penting, bagi seorang anak laki-laki atau perempuan: mempersembahkan cucu pada orangtua.

Kadang, orangtua menduga, anak mereka hanya berbuat iseng dengan teman-teman satu jenis kelamin. Paling jauh, mereka menganggap hal ini tidak terlalu serius.

Bagaimana pun, perkawinan dan meneruskan keturunan, tetap suatu hal yang suci. Karena itu, suatu situs web khusus, mencoba menghubungkan wanita lesbian dan pria homo. Dengan tujuan, wanita lesbian dan pria homo bisa melangsungkan pernikahan, dengan tujuan punya keturunan, sekedar untuk membahagiakan orangtua.rnw

sumber :http://www.surya.co.id/2010/01/15/kontes-mr-gay-pertama-di-tiongkok.html